Sabtu, 17 Maret 2012

18 doctors and a funeral

(dari sebuah berita duka di harian Kompas)
Sebelumnya saya minta maaf kepada keluarga almarhum. Tidak ada maksud untuk menyalahgunakan kabar duka ini. Justru saya pikir kita bisa belajar dari sini.
Sempat juga terpikir untuk mengaburkan gambar dan nama almarhum, juga nama-nama lain, demi privacy. Tapi tidak jadi, karena mengaburkannya justru malah bisa dianggap tidak menghormati fakta yang ada dan toh berita duka ini dimuat terbuka di sebuah harian umum.

Yang menarik bagi saya: dari 34 nama yang tercantum di sini, 18 di antaranya dokter. Lebih dari setengahnya. Banyak yang spesialis, sebagian mendapatkan gelar dokternya di Jerman (atau negara lain yang berbahasa Jerman). Ada dokter di mertua, di adik-kakak, di saudara ipar, hingga di kalangan keponakan. Kita tampaknya boleh bicara tentang sebuah dinasti dokter.

Kita lihat almarhum wafat dalam usia relatif belum tua. Dan inilah yang bisa menjadi pelajaran bagi kita: Siapapun kita, berapa pun usia kita, siapapun orang yang mengelilingi kita, ketika Tuhan memanggil, tak ada yang bisa menghalangi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar